ROAD TO HKAN: KOLABORASI BALAI KSDA BALI, TN BALI BARAT, YAYASAN JSI DAN MASYARAKAT DALAM PELEPASLIARAN KUCING KUWUK (Prionailurus bengalensis) DI JEMBRANA
Jembrana, 5 Agustus 2026 —Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Taman Nasional Bali Barat, Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) dan perangkat Desa Blimbingsari, secara bersama-sama telah melaksanakan pelepasliaran satwa dilindungi jenis kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) dikawasan hutan Taman Nasional Bali Barat, Resor Ambyarsari yang secara administrasi termasuk Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya kabupaten Jembrana.
Satwa berasal dari penyerahan warga yang bernama I Ketut Deni Andrian Adnyana, Alamat Banjar Melaya Krajan, Desa Melaya. Menurut pengakuan ybs, satwa masuk ke pekarangan rumahnya karena dikejar-kejar anjing peliharaanya kemudian dikurung di kandang, setelah mengetahui dari medsos bahwa termasuk satwa dilindungi, kemudian lapor ke Klian Dusun yang menghubungi kami Resor KSDA Wilayah Jembrana.
Kami melakukan evakuasi satwa dan langsung dititiprawatkan ke Yayasan JSI di Banyuwedang Buleleng, Sdr. I Ketut Deni Andrian Adnyana berpesan agar dikirimkan video pelepepasliaran satwa tanpa terputus dan kami menyanggupinya. Kami sangat mengapresiasi ke ybs yang telah peduli pada satwa liar. Salah satu SOP kami dalam setiap penyelamatan satwa adalah selalu dilengkapi dengan dokumen berita acara.
Berdasarkan hasil identifikasi, kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) hasil penyerahan dari warga berjenis kelamin betina, umur diperkirakan dewasa dengan berat badan 2,5 kg. Setelah menjalani rehabilitasi dan habituasi selama seminggu di Yayasan JSI dan dinyatakan sehat dan layak untuk dilepasliarkan oleh dokter hewan Yayasan JSI yang dibuktikan dengan surat keterangan pemeriksaan kesehatan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia tanggal 4 Agustus 2026.
Lokasi pelepasliaran satwa di Kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat Resor Ambyarsari Grojogan Waterfall dengan pertimbangan bahwa di lokasi tersebut merupakan habitatnya, yang dibuktikan dengan perjumpaan secara langsung petugas Taman Nasional Bali Barat dengan satwa tersebut dan juga pernah masuk kamera tersembunyi/trap camera yang dipasang TN Bali Barat.
“Satwa kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) ini termasuk jenis dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 tahun 2018, lampiran nomor 58, CITES Appendiks II,” ujar Ahmad Januar petugas Resor KSDA Wilayah Jembrana.
“Kawasan hutan Taman Nasional bali Barat, Resor Ambyasari ini merupakan habitatnya, yang dibuktikan dengan pernah tertangkap dengan kamera trap dan kegiatan pelepasliaran satwa ini merupakan hasil kolaborasi antara Balai KSDA Bali, Taman Nasional Bali Barat, Yayasan JSI dan Warga masyarakat Desa Blimbingsari yang diwakili oleh Bapak Perbekel,” kata Isai Yusidarta, ST,M.Sc. Kepala SPTN I TN Bali Barat
“Saya mewakili seluruh warga Desa Blimbingsari mengucapkan syukur dan terima kasih semoga apa yang dikerjakan hari ini mendatangkan keberkahan bagi kelestarian satwa di Desa kami,” Kata I Made Jhon Ronny, perbekel Desa Blimbingsari.
“Kucing kuwuk ini telah menjalalani masa rehabilitasi dan habituasi selama seminggu di Yayasan JSI, saat dilepasliarkan kondisinya sehat dan aktif, makan normal,” kata drh. Farida Ulya, dokter hewan di Yayasan JSI
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya konservasi satwa liar. Apabila menemukan satwa liar yang terluka, terlepas, masuk ke permukiman, atau berada di lokasi yang tidak semestinya, masyarakat dapat segera menghubungi Call Center Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai KSDA Bali agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, aman, dan sesuai kaidah konservasi.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak memelihara satwa liar baik yang dilindungi ataupun belum dilindungi. Kami juga mengajak masyarakat untuk segera menghubungi Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai KSDA Bali apabila menemukan satwa liar yang masuk ke permukiman agar segera ditindaklanjuti oleh petugas secara cepat dan cekatan," ujar Ratna Hendratmoko
“Keberhasilan konservasi lahir dari sinergi, kepedulian, dan aksi nyata.
BKSDA Bali, sepenuh hati untuk satwa Bali”
Penulis : Ahmad Januar, PEH Mahir
