Butuh Bantuan? Chat kami

Detail Berita

DARI EDUKASI MENUJU AKSI: BALAI KSDA BALI KEMENTERIAN KEHUTANAN BANGUN KOLABORASI KONSERVASI DI FESTIVAL PESONA TAHURA NGURAH RAI 2026

Denpasar, 31 Oktober 2026 – Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan berkolaborasi dengan Kawan Alam Indonesia dan UPTD Tahura Ngurah Rai dalam Festival PESONA Tahura Ngurah Rai Tahun 2026. Festival ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati serta menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam.

Mengusung tema “Knowing, Learning, Loving”, dengan konsep “Youth Collaborative Eco-Movement” serta slogan “Satu Alam, Satu Aksi”. Festival ini berlangsung selama 2 (dua) hari, mulai tanggal 31 Oktober s/d 01 November 2026, bertempat di Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai – Bali. Dihadiri oleh berbagai stakeholder antara lain: Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan, BPDAS Unda Anyar, UPTD Tahura Ngurah Rai, Polda Bali, Tentara Negara Indonesia (TNI), Komisi I DPRD Provinsi Bali, BPBD Provinsi Bali, Kejaksaan Negeri Denpasar, Poltekkes Kemenkes Denpasar, Kawan Alam Indonesia, Bali Zoo, Bali Safari, RAT, Bali Bird Park, Kader Konservasi Alam Bali, Desa Adat, Komunitas dan pegiat lingkungan, Organisasi kepemudaan, serta Akademisi.

Berbagai kegiatan lingkungan dan edukasi turut mewarnai festival ini, antara lain: aksi bersih waduk, penanaman mangrove, jungle track dan edukasi ekosistem mangrove, seminar nasional, pelatihan pembibitan mangrove serta kelas kebencanaan. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi wadah pembelajaran sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pada sesi edukasi, Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan bersama para mitra konservasi yaitu Reptil Asih Tabanan (RAT), CV. Bali Harmoni (Bali Zoo), PT. Taman Safari Indonesia III Gianyar (Bali Safari) dan PT. Taman Burung Citra Bali International (Bali Bird Park) melaksanakan Expo Satwa dan Edukasi Keanekaragaman hayati. Melalui kegiatan ini, pengunjung atau masyarakat diajak mengenal berbagai jenis satwa, karakteristik, habitat, serta pentingnya menjaga kelestariannya.

Dalam pelaksanaan edukasi, termasuk penggunaan satwa sebagai sarana peragaan, seluruh kegiatan tetap memperhatikan prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare). Penggunaan satwa dilakukan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kondisi, perilaku, keamanan, dan kenyamanan satwa, sehingga kegiatan edukasi tetap mengedepankan aspek perlindungan dan kesejahteraan satwa.

Salah satu materi yang menarik perhatian pengunjung adalah edukasi pengenalan ular yang disampaikan oleh Ni Putu Astridayanty dari RAT. Materi yang disampaikan meliputi perbedaan ular berbisa dan tidak berbisa, karakteristik ular, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi gigitan ular. Edukasi ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat sekaligus mengurangi kesalahpahaman dan ketakutan terhadap ular yang kerap berujung pada tindakan membunuh satwa tersebut.

Astrid menjelaskan bahwa ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, salah satunya sebagai pengendali alami populasi tikus dan hewan pengerat lainnya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menangani ular secara langsung saat menemukannya, melainkan menjaga jarak aman dan menghubungi petugas yang kompeten. “Melalui edukasi ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal ular, memahami perilakunya, serta mengetahui cara bersikap yang tepat ketika berhadapan dengan ular, sehingga tidak melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun satwa tersebut,” tambah Astrid.

Selain Expo Satwa dan Edukasi Keanekaragaman Hayati, Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan momentum festival ini untuk memperkenalkan upaya konservasi Curik Bali (Leucopsar rothschildi), satwa endemik kebanggaan Pulau Dewata yang berstatus kritis (Critically Endangered). Sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian publik, Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan juga membawa media berupa canvas dukungan usulan Hari Curik Bali Nasional. Melalui media tersebut, pengunjung diberikan kesempatan untuk menyampaikan dukungannya terhadap pengusulan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat memperluas perhatian dan partisipasi masyarakat dalam mendukung pelestarian Curik Bali.

Sebanyak 45 Kader Konservasi Alam Bali (KKAB), yang merupakan generasi muda binaan Balai KSDA Bali, turut berpartisipasi dalam festival ini. Para kader juga mengikuti Seminar Nasional bertema “Bersuara untuk Hutan, Bergerak untuk Masa Depan” yang disampaikan oleh 3 (tiga) pemateri yaitu Samsul Hernoto, S.S., M.M (Kepala BIN daerah Bali); I Dewa Nyoman Rai Dharmadi (Kasatpol PP Provinsi Bali) serta Henny Paula (Founder Kawan Alam Indonesia).

Salah satu anggota KKAB, I Dewa Ayu Agung Pradnyanita menyampaikan kesan setelah mengikuti seminar tersebut, “Dari seminar ini, kami belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga memahami risiko yang dapat terjadi ketika lingkungan tidak terjaga. Sebagai generasi muda, kami berharap dapat ikut mengambil bagian dalam menyebarluaskan pengetahuan dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.”

Kepala Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan, Ratna Hendratmoko, menyampaikan bahwa momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian alam. Semangat kolaborasi dan kepedulian pemuda perlu terus didorong agar konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.

"Bung Karno pernah menyampaikan, Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Semangat ini menunjukkan betapa besar potensi dan kekuatan generasi muda dalam membawa perubahan. Kami berharap melalui kegiatan ini, generasi muda tidak hanya mengenal dan memahami pentingnya konservasi, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk mengambil peran nyata dalam menjaga keanekaragaman hayati. Karena menjaga alam bukan hanya tanggung jawab hari ini, tetapi juga investasi bagi generasi mendatang," ungkap Ratna Hendratmoko.

Melalui Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026, Balai KSDA Bali Kementerian Kehutanan berharap edukasi konservasi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya generasi muda. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, komunitas, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sebab, mengenal alam merupakan langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian, dan kepedulian menjadi dasar untuk mengambil aksi nyata dalam menjaga kelestariannya.

 

-SEPENUH HATI UNTUK BALI


Penulis: Yeyen Fami Gressia