PESTA RAKYAT BALI: KETIKA KONSERVASI JADI SERU, DEKAT, DAN PENUH CERITA DI TN/TWA EXPO 2026
Setiap tanggal 10 Agustus diperingati sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), peringatan ini diselenggarakan sebagai upaya memasyarakatkan konservasi alam secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa, serta menumbuhkan semangat dan komitmen bersama menjaga kelestarian alam sebagai penyangga kehidupan bagi generasi sekarang dan generasi mendatang. Peringatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional.
Peringatan HKAN tidak berhenti pada seremonial setiap tanggal 10 Agustus, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai rangkaian kegiatan HKAN yang dilaksanakan secara serentak oleh jajaran Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), termasuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berjumlah 74 UPT di seluruh Indonesia dengan berbagai aksi konservasi. Pada tahun 2026 ini, peringatan HKAN mengangkat tema “Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”, yang menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga dan memulihkan alam Indonesia.
Rangkaian HKAN 2026 diisi dengan berbagai kegiatan yang memiliki fokus pada penguatan konservasi dan keterlibatan masyarakat. Salah satunya adalah Gerakan Road to HKAN, yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang relevan dengan wilayah kerja masing-masing. Selain itu, dilaksanakan pula Gerakan Pemulihan Ekosistem secara serentak di seluruh UPT Direktorat Jenderal KSDAE pada 10 Agustus 2026 melalui kegiatan penanaman, bersih sampah, pendidikan lingkungan, pembinaan habitat dan kegiatan lainnya.
Sebagai salah satu rangkaian utama peringatan HKAN 2026, puncak peringatan HKAN dilaksanakan pada 20 – 23 Agustus 2026 di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Rangkaian tersebut diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk penyelenggaraan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (TN/TWA) Expo, pelepasan satwa liar, seremoni peringatan HKAN, aksi penanaman, Konservasi Alam Talk, Serasehan PEH, Fun Run 5 KM TM Ragunan, serta kemah konservasi di Bumi Perkemahan Ragunan.
TN/TWA Expo sebagai Ruang Edukasi dan Promosi Konservasi
Salah satu rangkaian dalam puncak peringatan HKAN 2026 tersebut adalah TN/TWA Expo. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, mulai tanggal 20 hingga 23 Agustus 2026, yang diharapkan dapat menampilkan promosi objek dan paket wisata alam, penerapan Ayo ke Taman Nasional, informasi potensi kawasan dan edukasi konservasi, produk kelompok binaan, serta berbagai kegiatan lain yang mendukung penguatan wisata alam dan kolaborasi konservasi alam. Melalui kegiatan ini, masing-masing UPT memiliki kesempatan untuk memperkenalkan potensi kawasan dan berbagai upaya konservasi kepada masyarakat.
TN/TWA Expo 2026 mempertemukan unit pelaksana teknis konservasi dari berbagai wilayah Indonesia dalam satu ruang pameran. Sebanyak 76 booth turut mengisi rangkaian expo, mulai dari Direktorat Jenderal KSDAE, Balai/Balai Besar KSDA, hingga Taman Nasional dari berbagai wilayah di Indonesia. Kehadiran booth-booth tersebut menghadirkan beragam informasi mengenai kawasan konservasi, potensi wisata alam, keanekaragaman hayati, serta berbagai upaya konservasi yang dilakukan di masing-masing wilayah.
Booth tersebut antara lain berasal dari unit kerja seperti Pusat KSDAE, BKSDA dan BBKSDA dari berbagai provinsi, serta sejumlah Taman Nasional, di antaranya Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Leuser, Way Kambas, Komodo, Rinjani, Bali Barat, Ujung Kulon, Gunung Merapi, Bunaken, Wakatobi, hingga Taman Nasional Lorentz dan Teluk Cenderawasih. Kehadiran berbagai unit tersebut menunjukkan luasnya bentang kerja konservasi di Indonesia yang ditampilkan dalam satu rangkaian TN/TWA Expo 2026.
Kemeriahan TN/TWA Expo 2026 juga semakin terasa dengan hadirnya sejumlah pimpinan dan tokoh yang menyempatkan diri mengunjungi area pameran. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Ibu Menteri Kehutanan Nurlaili Haniah Kinanggi, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, S.Hut., Bapak Wiratno, jajaran pimpinan Ditjen KSDAE serta Medina Kamil turut hadir meramaikan rangkaian kegiatan Expo.
Menariknya, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat informasi yang ditampilkan. Setiap booth memiliki cara tersendiri dalam memperkenalkan kekayaan alam dan budaya dari wilayahnya. Pengunjung dapat melihat replika badak dari Taman Nasional Ujung Kulon, menyaksikan live painting dan cosplay pakaian adat di booth BBKSDA Papua Barat, hingga melihat dan mencoba langsung proses menenun di booth BBKSDA Nusa Tenggara Timur. Beragam pengalaman tersebut membuat TN/TWA Expo menjadi ruang untuk belajar, bereksplorasi, sekaligus mengenal keberagaman alam dan budaya Indonesia dalam satu tempat. Di antara puluhan booth tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali turut berpartisipasi dalam TN/TWA Expo 2026 dengan mengangkat tema “Pesta Rakyat Bali”.
Pesta Rakyat Bali”: Membawa Konservasi dalam Suasana yang Lebih Dekat
Konservasi tidak selalu disampaikan dalam suasana yang formal. Melalui konsep “Pesta Rakyat Bali”, BKSDA Bali menghadirkan berbagai kegiatan interaktif dan edukatif yang dikemas secara ringan dan menyenangkan, sehingga masyarakat dapat mengenal konservasi dengan cara yang lebih dekat. Nuansa Bali juga dihadirkan melalui berbagai sajian khas Bali. Pengunjung dapat menikmati kopi Kintamani secara gratis, serta mencicipi kacang Bali dan pie susu yang dibagikan selama kegiatan. Kehadiran produk lokal tersebut menjadi bagian dari konsep “Pesta Rakyat Bali”, sekaligus memperkenalkan kekhasan Bali kepada masyarakat yang hadir di TN/TWA Expo.
Konsep “Pesta Rakyat Bali” ini merupakan gagasan dan arahan Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko. Melalui konsep tersebut, pesan konservasi disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Untuk menjalankan konsep tersebut, BKSDA Bali melibatkan 15 orang tim pelaksana booth, yaitu Ratna Hendratmoko, Kadek Andina, Ali Febrianto, Detty Agustina, Fitriani M., Nora Dwi Madona, Neli Agustin, Komang Adiyasa, Soma Wardana, Raynaldi, Reyzsamudra, Endra Wijaya, I Gusti Made Darmawan, serta Nita dan Baiq Flora dari Kader Konservasi Alam Bali. Selama kegiatan berlangsung, seluruh anggota tim menjalankan tugas masing-masing, mulai dari menyiapkan dan menjaga booth, mendampingi pengunjung, memandu permainan dan kegiatan edukasi, hingga memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik.
Salah satu kegiatan di booth adalah berbagai permainan edukatif yang disiapkan oleh tim. Pengunjung diajak untuk mengikuti permainan seperti Kahoot dan kuis dadakan dengan pertanyaan seputar kawasan konservasi, tumbuhan dan satwa liar, serta upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Khusus bagi anak-anak, tersedia permainan puzzle bertema konservasi yang menampilkan salah satu kawasan konservasi atau satwa. Setelah berhasil menyusun puzzle, anak-anak diminta menebak gambar tersebut dan selanjutnya mendapatkan penjelasan sederhana mengenai kawasan atau satwa yang ditampilkan. Dengan pendekatan bermain sambil belajar, pesan konservasi diharapkan dapat lebih mudah dipahami dan diingat oleh generasi muda.
Berbagai permainan tersebut mendapat antusiasme dari pengunjung, terutama anak-anak yang terlihat bersemangat mengikuti setiap tantangan. Untuk menambah keseruan, setiap kegiatan dan permainan juga dilengkapi dengan hadiah menarik bertema “Pesta Rakyat Bali”. Berbagai hadiah disiapkan bagi pengunjung yang berhasil menyelesaikan tantangan, antara lain boneka Curik Bali, kaos, tumbler, mug, kipas, gantungan kunci, stiker, tas, dan berbagai merchandise lainnya. Selain menjadi bentuk apresiasi kepada pengunjung, hadiah-hadiah tersebut juga diharapkan dapat menjadi pengingat akan pesan konservasi yang disampaikan melalui kegiatan di booth BKSDA Bali.
Salah satu aktivitas yang menarik perhatian pengunjung adalah photobooth dengan latar Gunung Batur. Melalui spot foto ini, pengunjung tidak hanya dapat mengabadikan momen, tetapi juga diperkenalkan pada keindahan kawasan konservasi yang ada di Bali, khususnya TWA Gunung Batur Bukit Payang. Kawasan ini menjadi salah satu pilihan wisata alam yang menawarkan pengalaman menikmati bentang alam Gunung Batur sekaligus mengenal pentingnya menjaga kelestarian kawasan. Tidak berhenti pada pengenalan TWA Gunung Batur Bukit Payang, BKSDA Bali juga memberikan informasi kepada pengunjung mengenai kawasan konservasi lainnya yang dikelola di Bali, yaitu TWA Panelokan, TWA Danau Buyan–Danau Tamblingan, TWA Sangeh, dan Cagar Alam Batukau. Dengan demikian, melalui satu booth, pengunjung dapat memperoleh gambaran mengenai beragam kawasan konservasi yang dimiliki Bali beserta karakter dan potensi masing-masing.
Tidak hanya menghadirkan photobooth, BKSDA Bali juga menghadirkan face painting bertema satwa yang menarik perhatian pengunjung, khususnya anak-anak. Beragam gambar satwa menjadi pilihan bagi anak-anak untuk menghiasi wajah mereka, sehingga aktivitas tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi pengalaman yang menyenangkan selama berkunjung ke booth BKSDA Bali. Antusiasme anak-anak terlihat dari ketertarikan mereka untuk memilih gambar satwa dan mengikuti kegiatan face painting yang disediakan secara gratis.
Melalui aktivitas tersebut, BKSDA Bali sekaligus memanfaatkan momen bermain untuk memperkenalkan satwa liar kepada anak-anak dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Satwa yang mereka pilih untuk digambarkan di wajah bukan sekadar gambar yang menarik, tetapi merupakan bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Anak-anak diajak memahami bahwa satwa liar memiliki kehidupan dan habitatnya sendiri di alam, sehingga mengenal dan menyayangi satwa tidak harus dengan memeliharanya, tetapi dapat diwujudkan dengan menjaga dan melindungi satwa agar tetap hidup di habitat alaminya.
Dukungan Penetapan Hari Curik Bali Nasional
Jika sejumlah satwa ikonik Indonesia seperti gajah dan orangutan telah memiliki hari peringatan nasional sebagai momentum untuk meningkatkan perhatian dan kepedulian terhadap upaya pelestariannya, Curik Bali (Leucopsar rothschildi) sebagai satwa endemik Bali hingga kini belum memiliki hari peringatan khusus. Padahal, keberadaan Curik Bali tidak hanya menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati Bali, tetapi juga menjadi simbol upaya konservasi satwa endemik yang perlu terus diperkenalkan dan dijaga keberlangsungannya.
Upaya untuk mendorong penetapan Hari Curik Bali Nasional telah diinisiasi oleh BKSDA Bali sejak 9 April 2026, bertepatan dengan kegiatan pelepasliaran Curik Bali di Desa Bongkasa Pertiwi, Kabupaten Badung. Pada momentum tersebut, BKSDA Bali mulai menggalang dukungan melalui penandatanganan sebagai bentuk ajakan kepada berbagai pihak untuk turut memberikan perhatian terhadap keberadaan dan pelestarian Curik Bali.
Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui keikutsertaan BKSDA Bali dalam TN/TWA Expo 2026 di Taman Margasatwa Ragunan. Dengan jumlah pengunjung yang besar dan latar belakang masyarakat yang beragam dari berbagai daerah, gelaran tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan Curik Bali kepada khalayak yang lebih luas sekaligus memperluas dukungan terhadap inisiasi Hari Curik Bali Nasional.
Melalui booth “Pesta Rakyat Bali”, pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi mengenai Curik Bali, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menyatakan dukungannya secara langsung melalui penandatanganan dukungan terhadap inisiasi Hari Curik Bali Nasional. Kegiatan ini menjadi ruang partisipasi masyarakat sekaligus upaya membawa pesan tentang pentingnya pelestarian Curik Bali keluar dari Bali dan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Dukungan tersebut juga datang dari berbagai unsur pimpinan dan tokoh konservasi. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turut menyampaikan dukungannya terhadap Hari Curik Bali Nasional, bersama Ibu Menteri Kehutanan Nurlaili Haniah Kinanggi, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, S.Hut., jajaran pimpinan Kementerian Kehutanan, Bapak Wiratno, Medina Kamil, serta berbagai pihak lainnya.
Rangkaian dukungan yang dimulai dari Bongkasa Pertiwi dan kemudian diperluas melalui TN/TWA Expo 2026 menunjukkan upaya untuk membangun perhatian bersama terhadap Curik Bali. Dari momentum pelepasliaran di Bali hingga ruang pameran di Ragunan, setiap dukungan menjadi bagian dari perjalanan untuk memperkenalkan Curik Bali sebagai kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga bersama.
Melalui inisiasi Hari Curik Bali Nasional, diharapkan perhatian terhadap Curik Bali tidak hanya hadir dalam momentum tertentu, tetapi dapat terus tumbuh menjadi kepedulian dan dukungan yang lebih luas terhadap pelestariannya.
Konservasi, Literasi, dan Pertemuan dengan Tokoh Konservasi.
Tidak hanya menghadirkan aktivitas hiburan dan edukasi, BKSDA Bali juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal gagasan mengenai kepemimpinan bentang alam melalui literasi dan interaksi langsung dengan tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang konservasi. Sejumlah buku “Kepemimpinan Bentang Alam” karya Dr. Wiratno, M.Sc., yang akrab disapa Inung Wiratno, disiapkan untuk dibagikan secara gratis kepada pengunjung booth. Sebanyak 100 eksemplar buku dibagikan kepada masyarakat sebagai upaya memperluas pemahaman mengenai pentingnya melihat konservasi secara utuh, tidak hanya dari sisi kawasan, tetapi juga melalui keterlibatan dan peran berbagai pihak dalam suatu bentang alam.
Kehadiran Inung Wiratno secara langsung di booth BKSDA Bali menjadi salah satu momen yang menarik perhatian pengunjung. Masyarakat tidak hanya berkesempatan memperoleh buku, tetapi juga dapat bertemu, berbincang, dan mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya masyarakat yang turut memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berinteraksi dan berdiskusi secara langsung. Momen ini menjadikan pesan konservasi tidak hanya disampaikan melalui materi informasi yang tersedia di booth, tetapi juga melalui pengalaman, percakapan, dan interaksi secara langsung.
Kehadiran Inung Wiratno juga memberikan warna tersendiri bagi konsep “Pesta Rakyat Bali”, karena masyarakat dapat berinteraksi secara lebih dekat dengan sosok yang telah berkecimpung dalam dunia konservasi selama lebih dari tiga dekade. Kehadirannya turut membuka pemikiran bahwa kepemimpinan bentang alam menuntut cara berpikir baru yang melihat keterhubungan antara manusia, alam ,dan sistem kehidupan secara utuh, sebuah kepemimpinan yang tidak lagi berpusat pada kontrol, tetapi pada kolaborasi bukan pada kekuasaan, tetapi bagaimana membangun kesadaran kolektif sebagai basis aksi kolektif.
Sementara itu, Muhammad Panji atau yang dikenal luas sebagai Panji Petualang turut hadir dan menambah semarak booth BKSDA Bali. Sosok yang telah dikenal masyarakat melalui kiprahnya dalam mengenalkan satwa dan dunia alam, khususnya melalui berbagai aktivitas dan konten edukasi mengenai satwa, menjadi figur yang dekat dengan anak-anak dan generasi muda. Kehadirannya dalam “Pesta Rakyat Bali” menjadi kesempatan untuk membawa pesan konservasi melalui sosok yang akrab bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap dunia satwa dan alam.
Dalam kesempatan tersebut, Panji berinteraksi langsung dengan anak-anak dan generasi muda yang berkunjung ke booth BKSDA Bali. Suasana berlangsung hangat melalui sesi tanya jawab dan perbincangan seputar satwa, pengalaman mengenal satwa, serta bagaimana seharusnya manusia memperlakukan satwa liar. Panji juga memberikan wejangan kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga satwa dan tidak menjadikan satwa liar sebagai hewan peliharaan. Pengunjung juga berkesempatan berfoto bersama Panji, menjadikan pertemuan tersebut tidak hanya sebagai pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga sebagai ruang untuk menyampaikan pesan konservasi secara lebih dekat dan mudah diterima oleh generasi muda.
Empat Hari Pesta Rakyat Bali di Ragunan
Selama pelaksanaan TN/TWA Expo 2026, booth BKSDA Bali dikunjungi 1.184 (seribu seratus delapan puluh empat) orang. Selama empat hari, booth “Pesta Rakyat Bali” menjadi ruang interaksi bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia yang datang untuk mengenal konservasi Bali, mengikuti berbagai aktivitas, menikmati sajian khas Bali, maupun sekadar mengabadikan momen bersama.
Antusiasme pengunjung sudah terlihat sejak hari pertama, bertepatan dengan pembukaan TN/TWA Expo 2026. Kehadiran Panji Petualang, Inung Wiratno, dan Wakil Menteri Kehutanan menjadi daya tarik tersendiri dan membuat suasana booth semakin ramai. Pengunjung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berinteraksi secara langsung, mengikuti kegiatan yang tersedia, serta mendapatkan pengalaman yang berbeda selama mengunjungi pameran.
Kemeriahan juga berlanjut pada hari kedua ketika Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Ibu Menteri Kehutanan Nurlaili Haniah Kinanggi berkunjung ke booth BKSDA Bali. Kehadiran para pimpinan tersebut turut menarik perhatian pengunjung dan menjadi salah satu momen yang memperlihatkan dukungan terhadap pesan konservasi yang dibawa melalui konsep “Pesta Rakyat Bali”.
Sepanjang empat hari, berbagai aktivitas di booth mendapat respons positif dari pengunjung. Permainan edukatif, photobooth, face painting bertema satwa, serta berbagai sajian khas Bali menjadi aktivitas yang banyak diminati. Face painting, khususnya, banyak menarik perhatian anak-anak yang antusias memilih gambar satwa dan menghiasi wajah mereka. Sementara melalui permainan edukatif, pengunjung diajak mengenal kawasan konservasi, tumbuhan, satwa liar, dan berbagai upaya pelestariannya dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
Antusiasme tersebut juga terlihat dari pengunjung yang tidak hanya datang satu kali. Beberapa pengunjung bahkan kembali dengan membawa orang tua, teman, maupun anggota keluarga lainnya untuk menikmati kembali fasilitas photobooth dan mengabadikan momen bersama. Ada pula pengunjung yang setelah mencoba aktivitas di booth mengajak orang lain untuk datang dan merasakan pengalaman yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman yang diperoleh di booth tidak berhenti pada pengunjung pertama, tetapi turut mengundang orang lain untuk ikut mengenal dan menikmati rangkaian “Pesta Rakyat Bali”.
Dari sisi literasi, sebanyak 100 buku Kepemimpinan Bentang Alam karya Inung Wiratno dibagikan kepada pengunjung. Kesempatan untuk memperoleh buku sekaligus bertemu dan mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya menjadi salah satu pengalaman yang menarik bagi masyarakat yang hadir. Sementara itu, nuansa “Pesta Rakyat Bali” juga diperkuat melalui pembagian kopi Kintamani, kacang Bali, dan pie susu kepada pengunjung yang datang.
Berbagai hadiah dan merchandise turut dibagikan untuk menambah keseruan selama kegiatan, mulai dari kaos, mug, kipas, stiker, tumbler, goodie bag, hingga boneka Curik Bali. Hadiah tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada pengunjung yang mengikuti berbagai aktivitas di booth, sekaligus menjadi media untuk membawa pesan konservasi agar tetap diingat setelah pengunjung meninggalkan lokasi pameran.
Menariknya, keramaian booth tidak hanya terlihat dari panjangnya antrean, tetapi juga dari suasana yang tercipta di antara pengunjung. Sambil menunggu giliran mengikuti aktivitas, beberapa pengunjung bahkan berjoget bersama di area booth sehingga suasana antrean terasa lebih santai dan meriah. Momen-momen spontan seperti ini turut memperkuat nuansa “Pesta Rakyat Bali” yang memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman konservasi yang dekat, hangat, dan menyenangkan bagi masyarakat.
Secara umum, pengunjung memberikan respons yang baik terhadap kehadiran booth BKSDA Bali. Antusiasme masyarakat tidak hanya terlihat dari ramainya aktivitas, tetapi juga dari apresiasi terhadap suasana booth yang dinilai ramah dan hangat. Interaksi yang terbangun antara petugas dan pengunjung membuat booth BKSDA Bali menjadi salah satu ruang yang ramai dikunjungi selama pelaksanaan TN/TWA Expo 2026.
Dengan jumlah pengunjung mencapai 1.184 orang, keikutsertaan BKSDA Bali dalam TN/TWA Expo 2026 menjadi momentum untuk memperluas pengenalan mengenai kekayaan alam, satwa, budaya, dan upaya konservasi Bali kepada masyarakat dari berbagai daerah. Dari satu pengunjung yang datang, kemudian mengajak teman, keluarga, atau orang tuanya untuk kembali, tumbuh sebuah cerita sederhana tentang bagaimana pengalaman di sebuah booth dapat menjadi awal dari ketertarikan dan kepedulian terhadap konservasi.
Membawa Pulang Cerita ke Bali
Keikutsertaan BKSDA Bali dalam TN/TWA Expo 2026 bukan sekadar tentang menghadirkan “Pesta Rakyat Bali” selama empat hari di Taman Margasatwa Ragunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk berbagi cerita tentang alam, satwa, bentang alam, dan upaya konservasi Bali kepada masyarakat yang lebih luas. Berbagai interaksi yang terbangun selama kegiatan menunjukkan bahwa pesan konservasi dapat disampaikan melalui cara yang sederhana, dekat, dan menyenangkan.
Namun, semangat konservasi yang tumbuh selama empat hari tersebut diharapkan tidak berhenti ketika pameran berakhir. Pengalaman, ide, dan semangat yang diperoleh selama berada di Ragunan menjadi bekal untuk dibawa kembali ke Bali dan diteruskan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Semangat tersebut juga diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh keluarga besar BKSDA Bali, termasuk rekan-rekan yang tidak berkesempatan hadir secara langsung dalam kegiatan. Apa yang dibangun di Ragunan bukan hanya milik tim yang berada di booth, tetapi menjadi bagian dari semangat bersama untuk terus mencari cara baru dalam menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat.
Semangat tersebut juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang turut bergotong royong dalam pelaksanaan Pameran HKAN 2026. BKSDA Bali mendapatkan dukungan dari berbagai sponsor dan mitra, baik dari dunia usaha, pelaku usaha konservasi, maupun jejaring yang memiliki perhatian terhadap upaya pelestarian alam. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan konsep “Pesta Rakyat Bali”, mulai dari penyediaan berbagai kebutuhan kegiatan hingga mendukung hadirnya beragam aktivitas yang dapat dinikmati dan diikuti masyarakat.
Kolaborasi tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya PT Milenia Kreasi Utama, PT PLN (Persero) UIT JBM, PT Tri Dwi Hantoro, CV Magic Bali, CV Black Lava, PT Bali Tone, CV Bali Bag, PT Raditya Persada Sentosa, PT Anugrah Alam Batur, PT Pucuk Bang Sejati, CV Bali Harmoni, PT Alam Semesta Budidaya, PT Wisata Reksa Gajah Perdana, PT Pelita Dewata Bird Farm, PT Rimba Kecil, Darma, Sentosa, PT Moda Kulit Batubulan, PT. Anak Burung Tropikana, PT Taman Safari Indonesia III, CV Indo Hidup, PT Rimba Reptil International, PT Tanaya Pesona Batur, PT Taman Wisata Wana Agung, PT Taman Benoa Eksotik, PT Taman Burung Citra Bali International, PT Laris Leather, PT Linggarjati Maris Makmur, PT. Ikas Amboina, PT. Nini Sri Rejeki dan PT. Nusa Lautan Rezeki, PT. Dinar Darum Lestari, CV Cahaya Baru, PT Aneka Karang Sepajang, PT Inti Samudra Lestari, CV Bali Ikan Hias, PT Aksara Bahana Abadi, PT Bali Coral Farm, CV Aqua First Bali, PT Bali Double C, CV Bali Aquarium, CV Sarana Teknik, CV Bali Coral, PT Demonia Perkasa, PT Agung Aquatic Marine, PT Tanjung Sari Aquarium, PT Gloria International, PT Tirta Samudra Bali, serta PT Banyu Biru Sentosa. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi konservasi dapat dibangun melalui kolaborasi dan keterlibatan berbagai pihak.
Cerita dari “Pesta Rakyat Bali” juga tidak berhenti di lokasi pameran. Melalui media sosial BKSDA Bali, berbagai aktivitas dan pesan konservasi selama kegiatan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Berdasarkan data Instagram Insights periode 18–24 Agustus 2026, akun BKSDA Bali mengalami peningkatan pengikut sebesar 5,4%, dengan pertumbuhan bersih 327 pengikut. Pada periode yang sama, konten BKSDA Bali memperoleh 169.986 tayangan dan menjangkau 40.513 pemirsa, dengan 84,3% tayangan berasal dari bukan pengikut. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman yang berlangsung secara langsung di booth dapat diteruskan melalui ruang digital dan menjangkau masyarakat yang bahkan tidak hadir di Ragunan.
Keikutsertaan dalam pameran ini juga mendapat apresiasi melalui penghargaan Juara Booth Terbaik 1 dan Juara Booth Favorit. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas konsep, kreativitas, penyajian, dan kerja bersama yang dilakukan selama kegiatan. Namun, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Justru, capaian tersebut menjadi penyemangat bagi BKSDA Bali untuk terus mengembangkan cara-cara komunikasi konservasi yang kreatif, partisipatif, dan semakin dekat dengan masyarakat.
Pada akhirnya, “Pesta Rakyat Bali” bukan hanya tentang membawa suasana Bali ke Ragunan, tetapi juga tentang membawa pulang semangat yang telah dibangun bersama. Semangat untuk terus mengenalkan alam, menjaga satwa, merawat bentang alam, melibatkan masyarakat, dan menyampaikan konservasi dengan cara yang lebih manusiawi. Empat hari mungkin telah berakhir, tetapi cerita dan semangatnya diharapkan terus berjalan dan dibawa kembali oleh setiap orang yang terlibat, diteruskan oleh keluarga besar BKSDA Bali, didukung oleh para mitra, dan tumbuh melalui masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
-Sepenuh Hati untuk Konservasi Alam Indonesia-
