PULIH SETELAH DIRAWAT : BURUNG ANGSABATU COKLAT KEMBALI KE HABITAT ALAMINYA
Buleleng, 10 Februari 2026 – Komitmen Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali dalam upaya pelestarian satwa liar kembali diwujudkan melalui kegiatan pelepasliaran satu ekor burung angsabatu coklat (Sula leucogaster) ke habitat alaminya. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari upaya penyelamatan satwa liar yang dilakukan oleh Tim Resor KSDA Wilayah Buleleng–Pelabuhan Gilimanuk pada akhir Januari 2026.
Burung angsabatu coklat tersebut berasal dari hasil evakuasi masyarakat di wilayah pesisir pantai. Sebanyak dua ekor burung ditemukan dalam kondisi lemah, tidak mau makan, serta tidak mampu terbang. Menindaklanjuti laporan tersebut, kedua burung segera dievakuasi dan dititiprawatkan di Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (YJSI) untuk mendapatkan perawatan dan rehabilitasi secara intensif.
Selama proses perawatan kurang lebih dua minggu, satu dari dua ekor burung yang direhabilitasi dilaporkan mengalami kematian. Berdasarkan hasil pemeriksaan nekropsi (bedah bangkai), kematian tersebut diduga disebabkan oleh infeksi bakteri yang mengarah pada penyakit colibacillosis (Escherichia coli). Sementara itu, satu ekor burung lainnya menunjukkan perkembangan kondisi kesehatan yang signifikan dan dinyatakan layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan satwa tersebut. “Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah sigap mengevakuasi burung angsabatu coklat ini sehingga dapat segera ditangani, serta kepada Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (YJSI) yang telah berperan aktif dalam perawatan dan rehabilitasi satwa hingga dinyatakan layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya,” ujarnya.
"Pelepasliaran ini sekaligus menunjukkan bahwa konservasi merupakan kolaborasi / kerja bersama. Keberhasilan upaya penyelamatan satwa dapat terwujud dengan baik, melalui kolaborasi lintas pihak, mulai dari masyarakat, lembaga mitra, hingga para pemangku kepentingan lainnya,” tambah Ratna Hendratmoko.
Burung angsabatu coklat atau Brown Booby merupakan burung laut berukuran besar dengan panjang tubuh sekitar 72 cm dan termasuk dalam keluarga Sulidae. Burung ini memiliki ciri khas berupa bulu berwarna coklat tua hingga kehitaman pada bagian kepala dan punggung, serta warna putih pada bagian bawah tubuh. Dalam kesehariannya, burung angsabatu coklat kerap beraktivitas di wilayah lepas pantai untuk mencari makan, terutama ikan-ikan kecil yang berada di permukaan laut.
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, terdapat empat spesies burung angsabatu yang berstatus dilindungi, yaitu Papasula abbotti (angsabatu christmas), Sula dactylatra (angsabatu topeng), Sula leucogaster (angsabatu coklat), dan Sula sula (angsabatu kaki merah).
Kegiatan pelepasliaran dilaksanakan di pesisir Pantai Keresek, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng. Lokasi ini dinilai layak dan sesuai berdasarkan hasil kajian habitat yang telah dilakukan, serta diperkuat oleh informasi dari masyarakat setempat yang kerap menjumpai keberadaan burung angsabatu coklat di kawasan pesisir tersebut. Pelepasliaran tersebut dihadiri oleh tim resor KSDA Wilayah Buleleng–Pelabuhan Gilimanuk, Tim YJSI dan Mahasiswa magang Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
Kepala Resor KSDA Wilayah Buleleng–Pelabuhan Gilimanuk, Beni Supeno, menegaskan pentingnya kepedulian bersama terhadap kelestarian satwa liar. “Jangan menunggu satwa punah baru kita peduli. Tindakan kecil dalam menyelamatkan satwa merupakan simbol nyata dalam menjaga kelestarian dan keindahan alam,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, Balai KSDA Bali mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya perlindungan satwa liar, antara lain dengan melaporkan temuan satwa yang sakit, terluka, atau terancam, serta tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu kelestarian satwa dan habitat alaminya.
SEPENUH HATI UNTUK BALI
