Kolaborasi Sepenuh Hati Memulihkan Ekosistem Danau Buyan Melalui Pengendalian Eceng Gondok
Pancasari, 9 Juni 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali bersama Komando Resor Militer (Korem) 163/Wira Satya, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Buleleng, serta berbagai pemangku kepentingan melaksanakan aksi kolaboratif pemulihan ekosistem Danau Buyan melalui pengendalian tumbuhan invasif eceng gondok (Eichhornia crassipes) di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Danau Buyan Danau Tamblingan (DBDT), Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng.
Kegiatan diawali dengan Apel Kesiapan Pemulihan Ekosistem Danau Buyan yang dipimpin Ketua DPRD Provinsi Bali dan diikuti sekitar 350 peserta dari unsur TNI, pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, mitra konservasi, kader konservasi, akademisi, pelaku usaha, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Apel tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian Danau Buyan sebagai salah satu kawasan konservasi penting di Bali.
Usai apel, para peserta melaksanakan aksi pembersihan eceng gondok yang selama ini menjadi salah satu ancaman utama bagi keseimbangan ekosistem Danau Buyan. Kegiatan didukung penggunaan alat berat amfibi, dump truck, dan berbagai sarana pendukung lainnya sehingga proses pengendalian dapat dilakukan secara lebih efektif. Upaya pembersihan ini ditargetkan selesai dalam waktu sekitar satu hingga dua bulan.
Danau Buyan merupakan bagian dari Taman Wisata Alam Danau Buyan Danau Tamblingan seluas 1.847,38 hektare yang dikelola Balai KSDA Bali melalui Seksi Konservasi Wilayah I. Kawasan ini merupakan satu dari lima kawasan konservasi yang dikelola BKSDA Bali dan memiliki peran strategis sebagai penyangga tata air, habitat keanekaragaman hayati, serta penyedia jasa lingkungan bagi masyarakat Bali. Danau Buyan juga merupakan bagian dari konsep Catur Danu yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Bali.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, luasan perairan yang terindikasi tertutup eceng gondok mencapai sekitar 8 hektare. Tumbuhan air invasif ini berkembang sangat cepat pada perairan dangkal dan relatif tenang sehingga dapat menutupi permukaan danau, menghambat masuknya cahaya matahari, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Selain eceng gondok, kawasan Danau Buyan juga teridentifikasi ditumbuhi sejumlah tumbuhan invasif lainnya, antara lain kesisat (Alternanthera philoxeroides), kapu-kapu (Salvinia molesta), padang teki (Schoenoplectus californicus), dan padang bagas (Brachiaria mutica).
Komandan Korem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, menjelaskan bahwa Danau Buyan dipilih sebagai lokasi prioritas setelah dilakukan pengecekan terhadap sejumlah danau di Bali sesuai arahan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan Pangdam IX/Udayana.
"Kami melakukan pengecekan pada seluruh danau di Bali, mulai dari Danau Batur, Beratan, Buyan hingga Tamblingan. Hasilnya menunjukkan bahwa Danau Buyan saat ini mengalami penyebaran eceng gondok dan gulma yang cukup luas, mencapai kurang lebih 8 hektare dari total sekitar 200 hektare luas danau sehingga perlu segera dilakukan penanganan," ujarnya.
Ketua DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia terkait penguatan pengelolaan lingkungan hidup dan penanganan sampah di daerah. Menurutnya, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, BWS, BKSDA, pemerintah desa, serta masyarakat menjadi kunci keberhasilan menjaga kelestarian Danau Buyan.
"Hari ini kita melaksanakan pembersihan dan normalisasi Danau Buyan dalam rangka bakti lingkungan hidup menyatu dengan alam. Ini merupakan bentuk sinergi seluruh pihak untuk menjaga kelestarian danau," jelasnya.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, mengapresiasi keterlibatan TNI dalam penanganan gulma di Danau Buyan yang dinilai sangat membantu upaya pelestarian kawasan danau.
"Kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran TNI bersama BKSDA, BWS, dan seluruh elemen masyarakat yang hari ini bergotong royong membersihkan gulma di Danau Buyan," katanya.
Perbekel Desa Pancasari, Wayan Komiarsa, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pemulihan Danau Buyan. Menurutnya, pembersihan gulma memberikan manfaat besar dalam menjaga kualitas lingkungan, keseimbangan ekosistem kawasan konservasi, serta mendukung keberlanjutan sektor wisata alam dan perekonomian masyarakat setempat.
"Atas nama masyarakat Desa Pancasari, kami mengucapkan terima kasih dan mendukung penuh kegiatan ini. Danau dan hutan adalah sumber kehidupan yang harus kita jaga bersama demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Kepala BWS Bali Penida, Gunawan Suntoro, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun antara TNI, BKSDA Bali, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat dalam upaya pemulihan Danau Buyan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, BWS Bali Penida menurunkan dua unit alat berat amfibi, dua unit dump truck, serta sekitar 30 personel.
"Kami sangat mendukung kegiatan ini dan berharap Danau Buyan yang sedang dibersihkan dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat. Ke depan, BWS Bali Penida akan terus berkolaborasi dengan BKSDA Bali dalam pemeliharaan badan air di Danau Buyan, Danau Beratan, dan Danau Tamblingan agar tetap lestari dan terjaga dengan baik," ujarnya.
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menegaskan bahwa pemulihan Danau Buyan merupakan wujud nyata implementasi nilai-nilai kearifan lokal Bali, seperti Tri Hita Karana, ajaran Catur Danu, dan Agama Budaya Tirta yang menempatkan air sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kesucian dan kelestariannya.
"Apa yang kita lakukan hari ini adalah implementasi dari Agama Budaya Tirta, bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus kita jaga bersama. Semoga upaya ini membawa manfaat bagi alam, masyarakat, dan keberlanjutan Danau Buyan. Sepenuh hati untuk Danau Buyan dan masyarakat sekitarnya," ujarnya.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat gotong royong dalam menjaga kawasan konservasi sekaligus memperkuat peran Danau Buyan sebagai penyangga kehidupan masyarakat Bali. Melalui upaya pemulihan yang dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan, diharapkan kualitas perairan Danau Buyan dapat meningkat, penyebaran tumbuhan invasif dapat dikendalikan, serta fungsi kawasan sebagai habitat keanekaragaman hayati, penyangga tata air tetap terjaga bagi generasi mendatang.
SEPENUH HATI UNTUK DANAU BUYAN DAN MASYARAKAT SEKITARNYA
Penanggung jawab berita:
Kepala Balai KSDA Bali
Ratna Hendratmoko – 081533288823
Informasi lebih lanjut hubungi:
Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Bali
Kadek Andina Widiastuti – 08111555520
Plh. Kepala Seksi KSDA Wilayah I BKSDA Bali
I Dewa Ayu Putri Pramita, SP. - 087865783788
Koordinator Urusan Kawasan Konservasi Robby Sukmawan – 08123991409
