Butuh Bantuan? Chat kami

Detail Berita

BALAI KSDA BALI MENYAMPAIKAN USULAN KONSEP “THE NEW KINTAMANI” - PENGELOLAAN BENTANG ALAM YANG ADAPTIF DAN KOLABORATIF

Kintamani, 8 Mei 2026 — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali melaksanakan kegiatan Konsolidasi Para Pihak Konsep The New Kintamani pada Jumat, 8 Mei 2026 bertempat di Aula Museum Geopark Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli. Kegiatan ini dihadiri oleh 46 stakeholder mulai dari unsur pemerintah, pengelola kawasan, desa adat, kelompok masyarakat, pelaku wisata, serta mitra kerja Balai KSDA Bali di wilayah Kintamani.

Dari unsur pemerintah daerah dan pengelola kawasan dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli I Wayan Dirga Yusa, Kepala Bidang Destinasi Wisata Gede Budiastawa, Perwakilan UPTD KPH Bali Timur, Perwakilan UNESCO Global Geopark Batur, Pengelola Museum Geopark Batur Putu Diyan, perwakilan Kecamatan Kintamani, Koramil 04/Kintamani, serta Polsek Kintamani. Kegiatan juga dihadiri oleh unsur desa adat dan pemerintah desa yang merupakan desa penyangga di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan, terdiri dari Desa Adat Batur, Desa Adat Songan, Desa Adat Kedisan, Desa Adat Terunyan, Desa Adat Buahan, dan Desa Adat Suter, serta Pemerintah Desa Batur Utara, Desa Batur Tengah, Desa Batur Selatan, Desa Songan A, Desa Songan B, Desa Kintamani, Desa Suter, Desa Buahan, dan Desa Kedisan. Selain itu hadir juga para mitra Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Wisata Alam (PB-PSWA) dan mitra kerja Balai KSDA Bali, di antaranya PT. Tanaya Pesona Batur, PT. Black Lava Bali, Kelompok Wana Lestari Penelokan, serta berbagai kelompok pelaku wisata dan masyarakat seperti Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITTA), Forum Pemandu Pendakian Gunung Batur (FP2GB), Pemandu Kawasan Kaldera Gunung Batur Bukit Payang, kelompok pramuwisata, komunitas jeep wisata, kelompok ojek wisata, Pokdarwis Abang Erawang, Kelompok Eka Wana Sari Merta, dan sejumlah tokoh masyarakat serta pelaku wisata di kawasan Kintamani.

Konsolidasi ini menjadi langkah awal (starting point) dalam membangun pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif dan partisipatif di wilayah Kintamani, khususnya pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan. Melalui forum ini, Balai KSDA Bali menyampaikan usulan konsep The New Kintamani sebagai arah baru pengelolaan kawasan yang mengedepankan keseimbangan antara aspek konservasi, pariwisata, budaya, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, dipandu oleh Koordinator Urusan Kawasan Konservasi Balai KSDA Bali, Robby Sukmawan selaku moderator. Kegiatan diawali dengan paparan mengenai Profil Balai KSDA Bali yang disampaikan oleh KSBTU Balai KSDA Bali, Andina Widiastuti. Dalam paparannya disampaikan gambaran umum Balai KSDA Bali, tugas dan fungsi pengelolaan kawasan konservasi, wilayah kerja Balai KSDA Bali, serta peran strategis kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan dalam mendukung konservasi sumber daya alam dan pengembangan wisata alam berkelanjutan di Bali.

Selanjutnya, Kepala Seksi KSDA Wilayah II Balai KSDA Bali, Raden Danang Wijayanto. memaparkan materi terkait latar belakang pengelolaan kawasan yang meliputi dasar kebijakan, isu strategis pengelolaan, serta penataan blok pengelolaan di kawasan TWA Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan.

Gambar 1. Keadaan Puncak Gunung Batur


Gambar 2. Lahan Terbangun didalam kawasan


Gambar 3. Salah Satu warung diatas puncak gunung batur.

Dalam paparannya disampaikan bahwa pengelolaan kawasan Kintamani saat ini menghadapi sembilan isu strategis yang memerlukan penanganan secara terpadu dan kolaboratif, yaitu penyesuaian rencana pengelolaan kawasan, penataan aktivitas jeep wisata, penataan aktivitas pendakian, optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), penataan kegiatan PB-PSWA dan PB-PJWA, penguatan sinergitas dengan Pemkab Bangli dan pengelola Geopark Batur, penataan subyek dan obyek terbangun di dalam kawasan, penataan pedagang, penataan skuter wisata dan motorcross, dan pembukaan obyek wisata baru.

Pada sesi berikutnya, Kepala Balai KSDA Bali Ratna Hendratmoko. menyampaikan usulan konsep The New Kintamani – Pengelolaan Bentang Alam yang Adaptif dan Kolaboratif, meliputi milestone kegiatan, stakeholder terkait, arah menuju The New Kintamani, nilai yang ditawarkan kepada para pihak, serta potensi manfaat (benefits) yang dapat diperoleh melalui pengelolaan kawasan secara kolaboratif dan berkelanjutan.

“Pengelolaan kawasan konservasi di Kintamani harus dilaksanakan secara adaptif dan kolaboratif, yaitu pengelolaan bentang alam yang mendukung kegiatan pariwisata yang sesuai dengan nilai konservasi, sesuai dengan perkembangan jaman dan didukung oleh para pihak serta mampu memberikan manfaat yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat serta daerah,” ujar Ratna Hendratmoko. Kepala Balai KSDA Bali

Dalam kegiatan tersebut, BKSDA Bali juga menawarkan nilai-nilai utama dalam implementasi konsep The New Kintamani, antara lain menjunjung integritas, mengedepankan komunikasi dan kolaborasi lintas pihak, berorientasi pada solusi, membangun hubungan yang saling menghargai dan saling percaya, serta mengutamakan pendekatan persuasif dalam penyelesaian berbagai persoalan pengelolaan kawasan.

Dalam paparannya, Kepala Balai KSDA Bali Ratna Hendratmoko. juga menjelaskan tahapan dan milestone pelaksanaan konsep The New Kintamani yang dirancang secara bertahap mulai Mei hingga Oktober 2026, atau dalam jangka menengah sekitar dua tahun, untuk terus dilakukan evaluasi dan perbaikan, serta adaptif terhadap setiap perubahan.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan berada pada tahapan Sosialisasi Awal The New Kintamani, khususnya pada agenda pra forum besar yang melibatkan perwakilan stakeholder dan para pihak terkait di kawasan Kintamani. Tahapan ini menjadi momentum awal untuk membangun kesamaan persepsi, memperkuat komunikasi, serta menghimpun masukan dan dukungan awal dari para pihak terhadap usulan konsep The New Kintamani.

Sebelumnya, tahapan pra kondisi telah dilaksanakan melalui pematangan konsep The New Kintamani, pendekatan secara langsung (face to face) kepada para pihak, serta konsolidasi internal di lingkungan Balai KSDA Bali. Selanjutnya, pasca sosialisasi awal ini akan dilaksanakan series meeting tematik bersama kelompok dan pelaku terkait, antara lain pelaku jeep wisata, pendakian, pedagang/penjual warung, pelaku PB-PSWA, pengelolaan PNBP termasuk mekanisme asuransi dan petugas pemungut tiket, serta pertemuan bilateral antara BKSDA Bali dengan Pemerintah Kabupaten Bangli.

Rangkaian tahapan tersebut diarahkan untuk membangun embrio kesepakatan bersama menuju Forum Besar The New Kintamani sebagai ruang konsolidasi dan pengambilan kesepahaman bersama antar para pihak dalam mendukung pengelolaan kawasan Kintamani yang lebih tertata, adaptif, dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, hasil kesepakatan dari setiap isu strategis akan diimplementasikan secara bertahap dalam pengelolaan kawasan melalui konsep The New Kintamani. Seluruh proses tersebut nantinya akan dievaluasi secara berkala dengan tetap membangun forum-forum komunikasi dan diskusi antar para pihak sebagai bagian dari penguatan kolaborasi pengelolaan kawasan Kintamani.

Selain penyampaian konsep, kegiatan juga diisi dengan sesi diskusi dan konsolidasi bersama para pihak untuk menyerap masukan, pandangan, serta isu strategis terkait pengelolaan kawasan konservasi dan wisata alam di wilayah Kintamani.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli melalui Kepala Bidang Destinasi Wisata menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap usulan Konsep The New Kintamani. “Kami mendukung usulan konsep The New Kintamani dan berharap ke depannya seluruh pihak dapat terus memperkuat kerja sama serta kolaborasi dalam mewujudkan pengelolaan kawasan Kintamani yang lebih baik dan berkelanjutan,” ujar Gede Budiastawa.

Perwakilan ASITTA juga menilai pengelolaan Kintamani perlu dipersiapkan tidak hanya untuk kepentingan saat ini, namun juga sebagai ruang investasi dan edukasi bagi generasi mendatang. “Kintamani harus dikelola secara kolaboratif agar tetap menjadi destinasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang,” ungkap Gede Sudiatmika.

“Konsep The New Kintamani menjadi tonggak harapan baru bagi pengelolaan pariwisata Kintamani yang berkelanjutan. Baru kali ini ada pimpinan yang memiliki inisiatif, niat baik, keberanian, dan komitmen dalam membangun pengelolaan kawasan secara adaptif dan kolaboratif berbasis bentang alam, dengan tetap memperhatikan kawasan konservasi dan masyarakat di dalamnya. Kami mendukung penuh konsep ini, khususnya dalam aspek edukasi dan capacity building, serta siap lebih proaktif dalam pengelolaan Geopark Batur sebagai bagian dari kawasan Kintamani,” ujar Putu Diyan, Pengelola Geopark Batur.

Dari unsur keamanan, Polsek Kintamani menyampaikan bahwa aspek keamanan dan kenyamanan merupakan faktor utama dalam mendukung pariwisata di kawasan Kintamani. Sementara itu Perbekel Desa Batur Utara berharap konsep The New Kintamani dapat terus dibahas dalam forum lanjutan agar isu-isu strategis yang lebih spesifik dapat digali dan disepakati bersama.

Dukungan juga disampaikan Perbekel Desa Songan B yang mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam proses diskusi. “Kami sangat setuju apabila seluruh aktivitas masyarakat di kawasan konservasi dapat terakomodir dan tertata dengan baik melalui konsep The New Kintamani ini,” ujarnya.

Perbekel Desa Suter menyampaikan dukungan penuh terhadap konsep tersebut dan berharap kelompok masyarakat terus dilibatkan dalam tahapan series meeting tematik berikutnya. Hal senada disampaikan Bendesa Adat Kedisan yang menekankan pentingnya proses diskusi yang matang sebelum implementasi dilakukan di lapangan.

Desa Adat Songan dan Desa Adat Suter juga menekankan pentingnya kepastian hukum, keterlibatan masyarakat adat, serta penguatan kolaborasi antara unsur adat, pemerintah, dan pengelola kawasan demi terciptanya keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan kawasan Kintamani.

Dari unsur pelaku wisata, perwakilan pemandu pendakian Gunung Batur menyampaikan bahwa konsep The New Kintamani merupakan bagian dari investasi jangka panjang bagi generasi mendatang. Sementara perwakilan kelompok jeep wisata berharap konsep ini menjadi titik awal (starting point) dalam penataan dan pembinaan aktivitas jeep wisata agar lebih tertib dan terarah.

Pada akhir kegiatan, para peserta konsolidasi pada prinsipnya menyampaikan dukungan dan kesepakatan bersama untuk melanjutkan pembahasan serta pengembangan konsep The New Kintamani sebagai upaya mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih tertata, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak. Balai KSDA Bali menyampaikan usulan konsep tersebut sebagai refrensi untuk diskusi bagi para pihak dan tentunya masih dimungkinkan adanya usulan, masukan, kritikan dan harapan untuk konsep yang lebih aspiratif mengakomodir kepentingan para pihak.

Melalui konsolidasi ini diharapkan terbangun sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi sekaligus mendukung pengembangan pariwisata alam yang harmonis, berdaya saing, dan berkelanjutan di wilayah Kintamani.


 

SEPENUH HATI UNTUK ALAM BALI