TINDAK LANJUT INSIDEN GIGITAN MONYET EKOR PANJANG DI SD NEGERI 2 WANAGIRI, BKSDA BALI LAKUKAN PEMANTAUAN DAN EVAKUASI SATWA
Buleleng, 10 Oktober 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali melalui tim KPHK Bedugul-Sangeh bersama Wildlife Rescue Unit (WRU) melakukan penanganan konflik satwa liar menyusul kejadian gigitan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terhadap seorang siswa kelas III SD Negeri 2 Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada 7 Oktober 2026.
Peristiwa terjadi ketika seorang siswa berusia 9 tahun hendak pergi ke toilet dan tiba-tiba digigit monyet pada bagian pinggang. Korban telah mendapatkan penanganan medis, termasuk pembersihan luka dan pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR).
SD Negeri 2 Wanagiri berada berdampingan dengan kawasan hutan yang merupakan habitat alami monyet ekor panjang. Keberadaan kelompok monyet di sekitar sekolah telah menjadi perhatian selama beberapa tahun terakhir. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak sekolah, guru, wali murid, dan perangkat Desa Wanagiri, antara lain melalui penjagaan secara bergiliran, pemasangan pagar bambu dan seng, serta penghalauan satwa. Balai KSDA Bali juga telah melaksanakan sosialisasi mengenai pentingnya tidak memberikan pakan dan memelihara satwa liar.
Lokasi sekolah yang berada di jalur Singaraja–Denpasar dan akses menuju kawasan Munduk turut menjadi perhatian karena aktivitas masyarakat yang memberikan makanan kepada monyet berpotensi menarik satwa keluar dari habitatnya dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
Sebagai tindak lanjut kejadian tersebut, pada 8 Oktober 2026 Balai KSDA Bali melaksanakan koordinasi di SD Negeri 2 Wanagiri bersama unsur Polsek Sukasada, Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng, pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, pihak sekolah, guru, dan wali murid. Pertemuan membahas langkah penanganan konflik serta upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Balai KSDA Bali menyarankan agar permohonan penanganan disampaikan melalui surat resmi sesuai prosedur yang berlaku.
Pada 9 Oktober 2026, tim KPHK Bedugul-Sangeh bersama tim WRU melakukan pemantauan dan memasang dua unit perangkap di sekitar sekolah. Pemantauan berlangsung hingga pukul 19.15 WITA, tetapi belum ditemukan satwa yang masuk ke dalam perangkap. Pemantauan kemudian dilanjutkan oleh petugas lapangan.
Pada 10 Oktober 2026, hasil pemantauan menunjukkan keberadaan lima ekor monyet ekor panjang di sekitar sekolah, terdiri atas dua anakan dan tiga individu dewasa. Dalam kegiatan tersebut, dua ekor monyet ekor panjang dewasa berjenis kelamin jantan berhasil ditangkap. Kedua satwa selanjutnya akan dititiprawatkan di Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (YJSI) untuk penanganan lebih lanjut sesuai arahan pimpinan dan prosedur yang berlaku.
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menyampaikan bahwa konflik satwa liar menjadi perhatian Balai KSDA Bali dalam beberapa waktu terakhir, khususnya konflik yang melibatkan monyet ekor panjang (MEP). Oleh karena itu, diperlukan upaya penanganan dan pengendalian populasi yang tepat dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan masyarakat serta kelestarian satwa liar.
“Kita perlu terus menjaga kelestarian habitat satwa liar, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga hidupan liar,” ujar Ratna Hendratmoko, yang akrab disapa Moko.
Balai KSDA Bali mengimbau masyarakat agar tidak memberikan pakan kepada monyet ekor panjang, baik di sekitar kawasan hutan, sekolah, permukiman, maupun sepanjang jalan. Pemberian pakan dapat mendorong satwa mendekati manusia dan meningkatkan risiko konflik.
Masyarakat juga diharapkan tidak memelihara atau berinteraksi langsung dengan satwa liar. Pihak sekolah dan orang tua diminta meningkatkan pengawasan terhadap siswa, khususnya saat beraktivitas di luar ruang kelas. Apabila menemukan satwa liar yang berpotensi menimbulkan konflik, masyarakat diimbau segera melaporkannya kepada petugas agar dapat ditangani secara aman dan sesuai kaidah konservasi.
Melalui koordinasi lintas instansi dan dukungan masyarakat, diharapkan penanganan konflik dapat berjalan optimal sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga dan keberlangsungan hidup satwa liar dapat didukung.
SEPENUH HATI UNTUK BALI
Penulis : I Wayan Sutarka & Febriana Sekar P.
Balai KSDA Bali
DOKUMENTASI
