Butuh Bantuan? Chat kami

Detail Berita

NGOBROL PINTAR (NGO-PI): BALAI KSDA BALI BUKA PUASA BERSAMA SAHABAT SATWA LIAR BALI

Denpasar, 1 Maret 2026 — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menggelar acara Buka Puasa Bersama Sahabat Satwa Liar Bali pada tanggal 1 Maret 2026, di Kantor Balai KSDA Bali. 

Acara berlangsung khidmat dan menjadi wadah awal silaturahmi para pecinta satwa liar di Provinsi Bali. Kegiatan ini dihadiri oleh 64 orang yang berasal dari 22 entitas/lembaga, antara lain: Dinas Pemadam Kebakaran Denpasar, Lembaga Konservasi CV. Bali Harmoni, Bali Reptil Park, Yayasan Reptil Asih Tabanan, Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan, Yayasan Bali Reptil Rescue, Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali (AKPPB), Yayasan Singa Hijau, KPP Bulih Bali Nusa Penida, Yayasan Sintesia Animalia Indonesia, Persatin Rangers, Sugar Glider Society, KPP Kosala Kesiman Coastal, Dimas Bedugul Rescue, Lubak Bali, Cat Lover Community, KPP Mangroveranger, Bali Reptil Society, PFCI Bali, My Cats Bali, COD, dan Burung Hantu Lover. 

Pertemuan ini menjadi awal komunikasi Balai KSDA Bali dengan para pecinta satwa liar di Bali. Dalam kesempatan buka puasa bersama, para sahabat satwa liar Bali memberikan berbagai saran dan dukungan untuk peningkatan pengelolaan penyelamatan satwa liar di Provinsi Bali, dan berkomitmen membentuk Forum Sahabat Satwa Liar Bali, yang akan menjadi wadah komunikasi, koordinasi, sekaligus kolaborasi dalam penyelamatan satwa liar di Provinsi Bali. 

Dalam agenda diskusi, Kepala Balai KSDA Bali juga memaparkan lima isu strategis yang saat ini menjadi perhatian bersama dalam penguatan pengolaan konservasi di wilayah Bali, antara lain: 1) Perdagangan Satwa Liar; 2) Kesejahteraan Satwa; 3) Konflik Satwa dan Habitat; 4) Peran Balai KSDA Bali dalam mengelola gerakan sosial; serta 5) Perlunya Kesadaran sosial dan Kesadaran Publik. 

Selain itu, Kepala Balai KSDA Bali juga menyampaikan data penyelamatan jenis satwa Tahun 2025 yang telah dilakukan oleh Balai KSDA Bali, meliputi: jumlah satwa yang berhasil diselamatkan, satwa yang dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya, serta satwa yang masih dalam penanganan melalui skema titip rawat, baik pada lembaga konservasi maupun mitra konservasi lainnya. Data ini menjadi dasar penting dalam merumuskan langkah strategis dan memperkuat koordinasi antar pihak dalam upaya perlindungan satwa liar di Bali. 

Selanjutnya, Balai KSDA Bali dan Forum Sahabat Satwa Liar Bali akan terus berkoordinasi, berkomunikasi, dan berkontribusi dalam upaya penyelamatan satwa liar di Provinsi Bali. Salah satu langkah awal yang akan didorong adalah usulan penetapan Hari Curik Bali sebagai bentuk komitmen penyelamatan satwa endemik Pulau Bali, yaitu Burung Curik Bali.

Selain sebagai wadah silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi BKSDA Bali untuk mengelola dan memperkuat gerakan sosial (social movement) dalam konservasi satwa liar. Sebagai keluarga besar, BKSDA Bali menempatkan setiap pihak yang hadir, baik lembaga konservasi, komunitas, relawan, hingga individu pecinta satwa, sebagai bagian penting dari energi kolektif dalam menjaga satwa liar Bali. 

Penguatan social movement ini menjadi bukti bahwa konservasi tidak hanya berjalan pada aspek teknis dan regulatif, tetapi juga harus dibangun melalui rasa memiliki, kepedulian, dan gerakan bersama. Semangat kebersamaan ini akan terus dikelola dan dirawat sebagai fondasi kekuatan keluarga besar BKSDA Bali dalam melindungi keanekaragaman hayati. 

Bapak Made dari perwakilan Burung Hantu Lover menyampaikan apresiasi kepada Balai KSDA Bali karena telah mengajak komunitas untuk bergabung dan berdiskusi, sehingga dapat menjadi wadah komunikasi bagi para pecinta satwa liar di Bali. Lebih lanjut, Bapak Made menyampaikan pengalaman dan harapannya “Kami sejak 2016 sudah berhasil menangkarkan burung hantu jenis Tyto alba, dan melepasliarkan kembali ke sekitar rumah kami. Hal ini kami lakukan sebagai bentuk menjaga ekosistem di persawahan, namun saat ini terkendala oleh masyarakat yang kurang edukasi, sehingga burung hantu tersebut diburu, saya berharap melalui forum ini, kita semua bisa secara bersamaan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran satwa liar di ekosistem.” 

Selain Pak Made, Bang Wanda yang berasal dari Persatin Rangers menyampaikan ”Kami menyambut baik terbentuknya Forum Komunikasi ini yang ke depannya dapat menjadi wadah berbagi informasi mengenai satwa liar, namun dalam ke depan forum ini kami harapkan memiliki 3 hal utama, yakni: 1) Struktur Kerja Yang Jelas, 2) Aksi Tahunan Yang Jelas, serta 3) Aksi Nyata, dan sebagai bukti konkrit, Persatin Rangers siap mendukung Penetapan Hari Curik Bali Nasional, karena dapat menjadi kampanye dan edukasi perlindungan satwa endemik Bali.” 

Dalam kesempatan yang sama, Widi dari Bali Reptile Park menyampaikan apresiasinya kepada Balai KSDA Bali yang telah mengumpulkan para pecinta satwa liar dalam satu forum. Ia menyatakan "Langkah Balai KSDA Bali sangat penting untuk menyatukan visi dan memperkuat jejaring konservasi di Bali, kami sangat mengapresiasi dan siap mendukung terbentuknya forum komunikasi ini. Kami dari Bali Reptile Park juga mendorong terjadinya pertemuan-pertemuan selanjutnya yang lebih tematik, guna membahas permasalahan khususnya terkait satwa liar di Bali secara lebih mendalam dan terfokus." 

Kepala Balai KSDA Bali juga mengingatkan dan menegaskan bahwa keberhasilan upaya konservasi tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan dan dukungan dari berbagai pihak. Sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam menjaga kelestarian satwa liar di Bali. 

"Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Khususnya Balai KSDA Bali tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan dukungan teman-teman Sahabat Satwa Liar Bali. BKSDA Bali akan berusaha merawat dan menjaga hubungan dengan Sahabat Satwa Liar Bali, karena mereka bukan hanya mitra, tetapi juga bagian penting dari keluarga besar konservasi yang bersama-sama menguatkan upaya perlindungan satwa liar di Pulau Bali.” ungkap Ratna Hendratmoko, Kepala Balai KSDA Bali. 

Sebagai penutup, Kepala Balai menegaskan bahwa forum ini tidak berhenti pada pertemuan tersebut. Ke depan, akan diselenggarakan rangkaian Ngo-Pi Bareng sebagai wadah memperdalam arah dan tujuan forum, serta membahas secara khusus usulan penetapan Hari Curik Bali Nasional agar semakin matang dan terarah. 


-SEPENUH HATI UNTUK SAHABAT SATWA LIAR BALI-